Seperti kota Jakarta, aku tak suka meninggalkan Jakarta. Aku juga tak suka meninggalkanmu. Kau adalah sosok yang hadir pada saat-saat yang tertentu. Menunggumu seperti menunggui hujan turun, yang tak bisa diramalkan hanya dengan langit mendung. Pada saat yang tak disangka-sangka, angin bisa meniup awan mendung pergi dan kembali menerbitkan matahari. Justru itu, kehadiranmu terkadang datang tiba2. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Karenanya, ketika kau datang, momen itu jadi sangat berharga. Karena aku tak akan pernah tahu apakah nanti momen seperti ini akan datang lagi.
Tetapi kamu terlanjur terikat pada janji. Ibarat perjanjian pada selembar kertas yang sudah ditandatangani. Ketika ia datang, aku justru harus menyeret langkah pergi. Meninggalkan dirimu yang sudah kunanti-nanti dalam cemas hampir setiap hari. Dan kau tak pernah bisa menahanku..
Meski sesungguhnya aku tahu kau pun ingin menahan kepergianku...
Dan mungkin nanti di tempat yang kutuju, selalu akan ada dirimu..
Hidup memang sering mencandai kita. Misalnya, pada saat-saat ketika ragamu sesaat menjauh dariku, aku masih membandel dengan mengirimkan pesan pendek ke telepon genggammu. Bahkan pada saat kau malah sedang bersamanya. Dan kali ini, ketika kau hendak bersamanya di kotamu, sesuatu menarikmu, dan membawamu kembali padaku.
Belakangan aku sadari..Segalanya memang telah diatur sedemikian rupa. Dan inilah rancangan yang sempurna dari yang Maha Kuasa.
Teman2 kita selalu berpikir bahwa kamu lebih baik untukku.. Denganmu, aku bisa punya hubungan yang matang. Aku akan semakin terkendali dan tidak terlalu sering ceroboh.
Tetapi tentu saja, kupikir hidup tengah bermain-main dengan takdir. Mendamparkan kita di depan teater hati kita. Meski sepertinya segala yang bertolak belakang seperti antara kebahagiaan dan kesedihan selalu hadir bersamaan.
Dan sesi-sesi yang kita lalui bersama selama ini membuatku berpikir, sepertinya hidupmu hanya terdiri dari dua jarum kompas: aku dan dia.
Hidupmu?? Tentu, selalu menunjuk ke Utara, meski hatimu mengarah ke Selatan. Dan aku, maupun kamu, selalu tahu, bahwa Utara adalah dia dan aku adalah Selatan.
Tetapi Utara tidak akan ada tanpa Selatan, begitu pula sebaliknya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar