Perpisahan, sedianya melibatkan dua orang: ia yang tinggal, dan ia yang pergi.
Jadi bayangkan, betapa sepinya perpisahan yang harus dilalui seorang diri.
Seperti berkali-kali, seperti setiap hari, ketika aku mengucapkan selamat tinggal kepada semua. Kepada kenangan. Kepada kita. Kepada rasa yang pernah kita punya, hanya untuk menemukan diriku kembali terdampar di tepian hatimu.
Aku seperti ombak yang hanya surut sebentar, kemudian berdebur kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk memecah tebing yang memagari kita. Hidup di masa lalu itu melelahkan. Tetapi hidup di masa depan tanpamu akan jauh lebih menakutkan. Bahkan hanya untuk sekedar kubayangkan.
Buatku, kita adalah sebuah dunia di sisi lain cermin. Dunia di mana aku bisa jadi diriku sendiri, dan kamu menjadi dirimu sendiri. Kita berbagi mimpi yang tak bisa kita bagi pada orang lain. Kita berbagi sunyi tapi saling menemani. Mengapa pula segala sesuatu harus diberi nama? Bukankah pohon liar yang tumbuh rindang di dalam hutan bisa tetap meneduhkan walau kita tak pernah tahu apa namanya?
"Suatu hari nanti, mungkin aku akan memandangi sosokmu dari kejauhan. Kamu dan dia. Kalian berdiri bersisian, tersenyum,tertawa, menyapa wajah-wajah asing yang memberimu ucapan selamat dan tepukan bersahabat di bahu. Lalu ia meremas jemarimu, dan kamu mencium tangannya."
MESKI LANGIT DI ATAS CERAH, NAMUN LANGIT HATIKU HUJAN
Seharusnya aku sudah terbiasa dengan semua ini. Dengan rasa sakit ini. Dengan rasa perih yang mendesak-desak di balik kelopak mataku ini. Kutengadahkan wajahku ke langit, kemudian kutekan-tekan kelopak mataku untuk mengusir rasa itu pergi. Tetapi rasa itu tak mau hilang dan tetap bertahan. Karena rasa itu tak ada di sana. Pedih itu bukan di mata, tetapi di hatiku. Sejenis ketiadaan akan kamu yang meremukkan segalanya. Menyesakkan..!!
Tetapi akulah yang memilih untuk berada di sini. Hanya untuk melihatmu, bersamanya, di atas rasa sakit yang kini sudah berubah menjadi candu bagiku.
Mungkin memang masa depan memilih untuk melukiskan dirimu, bersamanya. Tertawa di atas impian kita berdua.
Ah, kamu benar..
Tidak ada lagi "kita", bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak mula kita bangun berdua. Ini impianmu. Hanya kamu. Dan ada dia di sampingmu, yang berbagi malam bersama kamu.
“Dan memang pada akhirnya, kamu akan memilih seseorang yang akan selalu ada untukmu. Someone you can count on. Seseorang yang bisa membahagiakanmu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar